20.12.10

Lembam.

Buatnya itu hanya sesuatu yang bersifat mekanis.
Sistem yang senantiasa perlu dipenuhi.
Organ harus berfungsi jika tidak mati.
Peredam depresi alamiah.

Sesal. Tidak.

Yang sejati ditunggu sungguhnya ialah desah,
peluh dan aroma menuju penghujung.
Sampai akhirnya lemas, rebah.
Lembam tak berdaya.

14.12.10

boards 81/2" 

pre-order: 62818177426

9.12.10

morning distortion

from the same side of routine wire
the morning offers distortion.
a comforting one.

leaving fraction
folds of hope
that we're not too late.

8.12.10

Penanda.

Cermat ia amati setiap lekuk
Seakan tahu apa arti waktu.

Apa yang akan terjadi nanti
ketika bagian terakhir dari kami
terangkat juga.

Sungguhnya,
mereka tidak meminta dengan paksa.
Kami akhirnya tahu,
bahwa untuk itu kami dipersiapkan.
Memahami bahwa kematian
adalah hitungannya,
kemudian terbiasa melihat mundur.
karena hanya itu yang sejati dipunya.

Pada suatu kisaran ketinggian,
kami akan kehilangan nafas.
Paham dan amin.

Ketika tiba nanti,
hangat kulit, desah dan aroma,
kiranya akan menemani dalam ingatan,
tentang seorang penanda
keberadaan jiwa.

3.12.10

  wat a pleasant surprise

illustration now 3 the book is out!


        

19.11.10

 Jauh Sebelum

Ingin kembali bermain ke sana.
Lapangan luas
dengan tumpukan sampah menggunung.
Entah mengapa kita
tak pernah begitu terganggu dengan baunya.

Ketika  kerumitan masih sebatas tumit.
Paling-paling, soal alasan apa yang akan diberikan
kalau pulang terlambat ke rumah.

Aku pernah memberi mu
seulir gelang manik warna-warni
dan kau menukarnya dengan
gambar boneka kesayangan,
yang waktu itu, belum bisa kau miliki.

begitu mudahnya menjadi dekat
berbicara tentang apa saja
bersentuh  tanpa canggung

ingin kembali.
ke sana,
jauh sebelum tersesat.

17.11.10

memories












dari blog temansekamar,
http://lovingindonesia.blogspot.com/2010/07/tujuh-terpikat-masuk-perangkap.html

salah satu alasan, dari

-Proyek 30 Alasan Mencintai Indonesia-

Tujuh: Terpikat Masuk Perangkap*

7 (Tujuh)


Saya cinta Indonesia karena...
inspirasi, kopi dan spiritualitas yang diapresiasi.

Ismail Marzuki pernah menulis salah satu lagu terindah yang berjudul "Juwita Malam". Lagu ini bisa (dan pernah) dinyanyikan tanpa batasan genre, mulai dari pop, keroncong, sampai jazz. Liriknya bercerita tentang harapan bertemu lagi dengan seseorang yang istimewa suatu saat nanti, in a romantic but not disgusting kind of way**. Gue suka sekali sama lagu ini.

Ismail Marzuki adalah salah satu seniman terhebat yang pernah dimiliki Indonesia, tetapi bukan hanya beliau yang pantas mendapat rasa hormat dan kagum. Pramoedya Ananta Toer, N.H Dini, Seno Gumira Ajidarma, Lilis Suryani, Remy Silado, Henk Ngantung, dan Sapardi Djoko Damono mengajarkan berbagai hal ke gue lewat karya-karya mereka. Karena mereka lah gue bangga menjadi salah satu orang yang lahir di Indonesia, negara tempat mereka hidup dan berkarya.

Kalau banyak orang mencintai Indonesia karena makanan-makanannya, gue punya alasan lain, yaitu karena Indonesia adalah rumah dari berbagai minuman, dari yang sehat sampai yang 100% kadar alkoholnya! YEAAAH! Tapi, kopi Indonesia yang paling top. Kalau ada uang lebih, gue bahkan sudah berpikir untuk mencoba seluruh kopi dari sepelataran Nusantara suatu hari nanti. Sampai sejauh ini yang pernah gue cicipi adalah Kopi Aceh, Bali, Toraja dan Jawa. Soal merek, 'Kapal Api' adalah yang paling mewakili Indonesia... It's good!

Terakhir, namun teramat penting. Gue cinta Indonesia karena keragaman dalam hal spiritualitas. Gue merasa sangat beruntung karena lahir di negara di mana spiritualitas bukan sesuatu yang aneh.

*Judul diambil dari lirik lagu Juwita Malam karya Ismail Marzuki
** terinspirasi dari lirik lagu milik grup musik Phoenix 'Lisztomania'

Patricia Adele
disunting oleh: Andini Haryani.

Mengenai Andini Haryani
Beliau adalah seorang teman baik yang sangat dekat di hati. 
Penulis muda berbakat
Pemilik blog:  http://lovingindonesia.blogspot.com

 

16.11.10

terhitung masuk.

her heart they're questioning, is not less content than theirs.
the numbness is just part of it.
the awkwardness is plain blunt default she had to offer. 
to keep the love alive.

there is no other point.


terbiasa menunggu orang kembali pulang.
mendengarkan mereka bercerita tentang kisah-kisah perjalanan.

terbiasa akan sesuatu itu merupakan proses panjang.

sayangnya, tak jarang arogansi tengah terbalut rapih
oleh kerendahan hati yang dibuat-buat.
pun itu, masih terhitung upaya untuk berdamai.

sebaliknya, mempertanyakan ketulusan
merupakan salah satu bentuk arogansi tingkat supra.
aku terhitung di dalamnya.

begitu cepat resah pada keadaan.
padahal, mengenai menjalani hidup,
pengetahuan ku hanya sekelas makanan cepat saji.

3.11.10

On Vast Sands of the Sea


We'll no longer be talking about the weather.

On the realms, My Apollo.
You pearl..

16.9.10

am.

Wondering is.
I am now.
Still with no destination. 

Dare not, i am. 
To figure out. 

Making peace with what they have to say thoroughly 
about who i really am , is always part of the process. 
I guess they know better.

5.9.10

am now

How genuine the feeling is.. To actually feel safe around someone. I wish i could do more than standing and to wait for another moment to come. You always manage pretty good you know. You made sure i know about that. I just wish i can tell you more than breathing. But words means promises.

9.8.10

so what's next

I'm getting used to it.
they've become another casual conjunctions.

I always remember things, freakishly.
now the only thing that kept me going
is contradiction.

What a comfort
seeing my alternate
safely laid, there in your arms.

29.6.10

What Price

The encounter sometimes are some kind of enlightenment don't You think..?
Seconds of them no matter how vague and brief
always leads to another point and We're these another persons.

We ain't owe each other nothing.
What ever it is
it can never be measured.
Yet it is the only thing that can satisfy all the hunger.

We've let it open
for a while
for the invitation
to be declined
by fears.

31.5.10

Cicada


Wish I can start over.
All things that I should have kept to my self.
To step aside.
Cicada's my nature.
Live benign the now.
Sing their desire till death.

9.5.10

Pesan Kabur

Beberapa pernyataan
di beberapa pesan pendek
yang entah hendak mengarah kemana

Aku tengah di alam fikir.
Semoga aku dalam keadaan baik.
Lalu beberapa pesan serupa
yang kabur namun terasa indera

Seandainya kau memahaminya
bukan memahami ku.
Itu saja sudah cukup.

2.4.10

sometimes aren't we all

Ia pernah mengutarakan firasat tentang kematiannya sendiri padaku.
"Sudah dekat. Mungkin tidak kurang dari tiga tahun kedepan."
Aku memahami pun sesekali tak menyetujui.

Aku pernah mencoba beberapa kali menghirup wangi dari kematian. Seakan berusaha mencari jejak wangi makanan yang baru saja selesai diolah. Pernah juga menepis hingga segala macam kulakukan untuk mempersempit kemungkinannya.

Belakangan ini cuaca tak menentu. Hal yang mungkin saja mempengaruhi perilaku. Semua yang berlaku masiv sering punya dampak yang kurang lebih sama.

Berharap akan kematian seperti mengharapkan barang yang mahal harganya. Berharap untuk terus hidup terdengar patriotis dan ekonomis.

Tawar menawar terjadi bergantung pada keadaan.

23.3.10

seandainya hanya lelah

Kau pernah menggambarkanku suatu waktu
di selembar kertas berserat
Sosok kanak
tengah meniup gelembung udara
Tanpa sepengetahuanku

Setidaknya itu menurutmu
Setidaknya itu menurutku menurutmu.

Seandainya kita tak pernah
mungkin akan lebih mudah
dan pertanyaan
mengenai penyesalan
tak pernah ada

aku mencoba untuk terus bernafas
hingga mungkin
menjadi terlalu sering memintamu
untuk mengerti

Mungkin kau pun

Seandainya
kita pernah sampai
pada pertanyaan
tentang pengkhianatan
dan mungkin
tentang apakah aku
pernah menusuk
dari belakang

Tandai kemungkinannya
tunjukkan padaku seperti jantan

Dari segala amarah
yang mungkin pernah tersirat
berkhianat bukan bagianku

16.3.10

yearning the impossible

the memory of
something like the sea
not too far
yet unseen
covered with tons of buildings
ordered chaotic

It's just
the hunch of it
hangs
perpetual

12.3.10


the desire to be so invisible
that the grave is such a comfortable home


menjadi sedemikian ringan
adalah keniscayaan
ketika segala sesuatu
tidak lagi menghempas

Keinginan
untuk menjadi begitu tak terlihat
dan kuburan
adalah rumah yang nyaman
Karena volum berlebih
yang kian
Oleh diri
yang membiarkan

Bahkan ketika nafas
harus terhenti beberapa saat,
mengingat-ingat
bagaimana rasanya menghirup udara
bisa membuat bertahan

4.3.10

True Intention

One look to decide.
maybe that's humanity
for at least now
Maybe that's how I'll follow
in rage

how can one be
to suit oneself
if one still
look the other way
when things
gets vigorously
wrong

26.1.10

Letter.

Now and then
is where i want to be.
Away from all the vertigo.

But it's not one's choice.

Was never fond
of the ice melting sensation.

Yet i lick them good.

What matters
is not anymore matter.

My ungrateful soul
should soon be tamed.
Quiet then.

All mess
will soon be forgotten.

19.1.10

infinity plus one

Puppet in the dark
awaits for the sign of smallest light
from its master
to make it dance
through civilization.

For its freedom is none
by its difference.
No such system can accept
what's it made of
to let it move by itself,
infinity plus one
until then.

12.1.10

been deserving things i don't deserve.. time to pay back

so then I'll be able to say
i owe you nothing.

It is always been
I thank you.. for saving my life.
Thanks. You saved my ass.

For the chance.
I'll pay.
This time.. with
my own.