
this one hahah let see.. she's my mentor and a dearest friend too.
life's just too full of it sometimes ain't it, and we have found ourselves pondering it over and over again about how all this will relate us to a greater things later.
well i guess i'll see u then, if we ever got to get out of this fucking labyrinth.
check this down below, i've wrote this to her under the absence of mind sequence. (lol)
Selembar daun kering musim hujan
Angin lembab meniup ringan kering yang entah darimana itu
Melandai ditengah pepohon yang berbisik akan keberadaannya
Berbisik yang terdengar…
seakan sengaja
Lalu melaluiku, mengitar sedikit,
hingga aromanya tercuri hirup..
Aku mengerti sekalimat dari wanginya
Ada sekata, sekata …
Seperti selamat tinggal tak terungkap, hanya sampai pada laku
Yang menyisakan tanya pada setiapnya
Mereka semua melaju… datang dan pergi.
Aku hanya mendengarnya tanpa mengiyakan.
Mereka semua melewati jalan itu, menuju taman gemerlap.
Dan kau lihatkah caravan yang baru saja itu?
Melaju cepat , membuat jantung yang ada didalam berdegup.
Tak sabar untuk sampai.
Kau akan ikut kah?
Aku hanya mendengar tanpa mengiyakan
Dia bercerita terus
Sampai aromanya hilang.
Ah..dia meninggalkan ucapan selamat tinggalnya terakhir padaku.
Dan tetesan hangat membasahi pipi, bibir dan leher yang mulai beku karna dingin angin mulai menusuk.
Lalu tersenyum, membayangkan ramai taman gemerlap, gemuruh riang mereka disana
Dan daun kering yang pernah menemani dinginku.
12:11 pm
Monday January 17, 2005
To my beloved friend,
Cecil Mariani